Sunday, April 27, 2008

Ke Cengkareng lewat Tangerang...puziiinggg






Read more!

Wednesday, February 27, 2008

Penelitian Ilmiah Menyingkap Rahasia Kentut

By admin on Feb 26, 2008 in MITRA UP DATE- Berita Terkini Mitra 97FM

Kolom Abdul Halim — Tinggal di Jerman

Buang angin, kentut, atau yang dalam istilah ilmiahnya disebut flatulence, flatulency, flatus, adalah ciptaan Allah, yang sudah pasti bukanlah peristiwa biasa. Anda dapat membuktikannya dengan mencari tulisan ilmiah seputar kentut di mesin pencari pustaka ilmiah di internet, misalnya di scholar.google.com dengan mengetikkan kata kunci flatulence intestine. Yang akan Anda dapatkan adalah tidak kurang dari 4800 rujukan ilmiah yang membahas atau mengandung rujukan tentang kentut dari tahun 2000 hingga sekarang!
Tidak sampai di situ saja. Rujukan ilmiah tersebut diterbitkan oleh beragam jurnal ilmiah dari berbagai disiplin, dari ilmu gizi, kedokteran, hingga kesehatan dan pengobatan. Sudah pasti ini bermakna pula peneliti dan para ilmuwan yang berkecimpung di bidang penelitian kentut juga berasal dari beragam disiplin ilmu.



Fisika di balik kentut

Keluarnya angin dari anus itu sendiri juga merupakan peristiwa yang memperlihatkan kebesaran Sang Pencipta. Di dalam saluran pencernaan makanan, terutama di dalam usus, terdapat berbagai zat berwujud padat, cair, gas, serta dengan tingkat kepadatan dan keenceran beragam. Hebatnya, angin kentut yang berbentuk gas bisa mengalir ke arah bawah, dan menerobos cairan dan padatan di dalam usus, untuk kemudian keluar meninggalkan dubur.

Ini bukan peristiwa yang tidak aneh. Mengapa? Anda bisa mencoba mencampur zat padat, zat cair dan gas di dalam tabung atau gelas yang memiliki katup pengeluaran di bagian dasarnya. Lalu Anda berikan tekanan pada campuran tersebut, bisakah Anda memastikan bahwa gas tersebut bergerak ke arah bawah dan bahwa yang keluar dari katup pengeluaran tersebut hanya gas saja?

Biasanya gas atau gelembung udara bergerak menuju ke atas karena lebih ringan, dan sulit mengeluarkan gas tanpa mencegah keluarnya cairan atau padatannya melalui katup tersebut. Tapi peristiwa kentut terjadi melalui cara di luar kebiasaan itu berkat sempurnanya ciptaan Allah pada otot cincin yang membuka dan menutup lubang anus itu.

Otot lingkar pada dubur ini mampu merasakan keberadaan gas kentut dan mengatur pengeluarannya sedemikian rupa sehingga hanya gas saja, dan bukan padatan dan cairan, yang keluar dari anus. Bayangkan seandainya otot ini tidak mampu memilah dan mencegah keluarnya cairan dan padatan dari usus besar kita di saat kita buang angin di tempat terbuka.

Sangat diragukan jika ada alat buatan manusia yang mampu melakukan kerja seperti lubang anus yang luar biasa itu. Otot-otot dan jaringan terkait di seputar anus adalah organ ciptaan Allah yang Mahahebat, yang mampu melakukan kerja pelepasan gas kentut sekitar 10 kali per hari dengan sempurna, selama puluhan tahun usia manusia.

Kimia gas kentut

Di dalam usus besar, sekitar 70% gas berasal dari udara yang tertelan melalui mulut kita. Ketika makan, orang pada saat yang sama menelan ke dalam perutnya sekitar 2-3 cc udara. Misalnya, jika kita makan apel, udara tambahan yang ikut tertelan ke dalam tubuh kita adalah sekitar 20 cc. Begitu pula dengan minum. Kurang lebih 17 cc udara memasuki saluran pencernaan makanan saat seseorang meminum 10 cc air.

Gas selebihnya yang terdapat pada usus adalah gas asli buatan “dalam negeri”, alias muncul dari dalam usus itu sendiri dan bukan dari luar tubuh. Gas ini dihasilkan melalui aktifitas penguraian oleh mikroba di dalam saluran pencernaan kita.

Bagaimana gas-gas itu terbentuk? Tidak semua makanan yang kita telan dicerna sempurna dan diserap keseluruhannya di dalam usus halus. Sebagian makanan berserat atau zat tepung yang tak tercerna sempurna ini, misalnya kacang-kacangan, kemudian dirombak atau diuraikan oleh mikroba yang menghuni saluran pencernaan kita. Penguraian ini di antaranya menghasilkan zat-zat berwujud gas seperti metana dan hidrogen sulfida, serta gas-gas yang mengandung unsur belerang lainnya.

Gas kentut adalah campuran beragam gas. Kentut sebagian besarnya terdiri atas gas oksigen, nitrogen, karbon dioksida dan metana yang kesemuanya ini bukan penyebab bau tidak sedap. Yang memunculkan aroma tidak sedap pada kentut adalah gas-gas yang mengandung belerang. Di antaranya adalah hidrogen sulfida (bau telur busuk), methanethiol (bau sayur membusuk). Namun ada pula dimetil sulfida yang memiliki bau manis.

Kreatif karena kentut

Ternyata kentut memiliki nilai komersial. Sebut saja Josef Pujol, warga Prancis kelahiran Marseilles tahun 1857. Ia memiliki kelebihan mampu dengan sengaja mengendalikan otot-otot perutnya. Dengannya, ia dapat dengan mudah menyedot 2 liter udara ke dalam usus besarnya melalui anus, dan meniupkan kembali ke luar anus. Dengan kata lain, ia mampu membuat “kentut buatan”.

Berbekal bakat ini, ia memasuki dunia pentas hiburan. Sebelum pentas, ia “mencuci usus besarnya” agar tidak menimbulkan bau tak sedap. Suara buang anginnya hanya memiliki 4 tangga nada: do, mi, sol dan do lagi.

Pentas profesionalnya berawal di tahun1887. Karirnya mulai menanjak ketika ia naik panggung di gedung musik Moulin Rouge di Paris pada tahun1892. Dalam pentasnya, terkadang ia memasang selang pada anusnya yang kemudian disambungkan ke berbagai alat musik tiup untuk bermain musik.

Selain sangat terkenal, ia juga mendapatkan penghasilan 20.000 frank per minggu, dua setengah kali lebih banyak dibandingkan artis kondang kala itu, Sarah Bernhardt. Ketenarannya ini bahkan sempat mendorong Raja Belgia datang diam-diam untuk melihat Josef Pujol.

Penyaring kentut

Kini telah tersedia produk di pasaran yang berfungsi menghilangkan bau kentut yang tidak sedap. FLAT-D adalah salah satu nama produk berbentuk kain persegi panjang, yang mudah dilipat dan dibawa. Kain ini digunakan dengan cara menghamparkan di atas kursi kerja, atau kursi kantor. Selain dapat dicuci dan digunakan ulang, kain ini mengandung karbon teraktifasi.

Ketika seseorang buang angin dalam keadaan duduk di atas kursi kerja yang tertutup kain FLAT-D, kain ajaib ini menyerap aroma tidak sedap kentut tersebut. Penyaring kentut ini diproduksi pula dalam bentuk pembalut yang dapat direkatkan pada celana dalam, sehingga lebih praktis.

Selain FLAT-D, ada pula produk serupa bernama Under-Ease yang dikeluarkan oleh perusahaan Under-Tec Corp. Pakaian dalam yang sudah mendapatkan hak paten ini adalah hasil kerja keras penelitian pasangan suami istri Buck and Arlene Weimer. Produk mereka sempat menjadi buah bibir di media massa AS di awal tahun 2000-an.
Demikianlah, tulisan singkat ini tidak mungkin dapat menampung seluruh hasil-hasil temuan ilmiah dan inovasi teknologi seputar kentut, gas yang seringkali dicemooh orang. Namun, sebagai salah satu ciptaan Allah, ternyata kentut membuktikan bahwa tiada sesuatu yang Allah ciptakan, melainkan menjadi bukti keagungan dan keluasan ilmu Allah, Pencipta tanpa tara. Dialah yang menciptakan segala sesuatu dengan tujuan yang benar, sebagaimana firman-Nya, yang artinya:

(yaitu) orang-orang yang mengingat ALLAH sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penCIPTAAN langit dan bumi (seraya berkata): Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan SIA-SIA Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali ‘Imran, 3:191)

(Penulis: Abdul Halim – Februari 2008)

Pustaka:

1. Dr. Karl. Be Gone with the Wind. http://www.abc.net.au/spark/smelly/begon…

2. S. Kurbel, B. Kurbel, A. V?ev. 2006. Intestinal gases and flatulence: Possible causes of occurrence. Medical Hypotheses, Volume 67, Issue 2, Pages 235-239

3. F. Azpiroz, J. Malagelada. 2005. Abdominal Bloating. Gastroenterology, Volume 129, Issue 3, Pages 1060-1078

4. Flat-D innovations, Inc. http://www.flat-d.com/

5. Under Ease. http://www.under-tec.com/store.php





Read more!

Tuesday, February 26, 2008

Doa Pilihan








Read more!

Wednesday, February 20, 2008

Ahza terkejut....

Jakarta, 21 Februari 2008

Ahza suka terkejut. Sejak masih bayi dia suka terkaget-kaget bila ada sesuatu yang berbunyi keras. Tangannya seringkali merentang dengan kaget apabila sedang tidur. Hal itu berlangsung ketika umurnya belum genap 1 tahun. Semenjak mencapai usia 1 tahun, Ahza tidak begitu bereaksi dengan suara yang mengganggu ketika tidur, sehingga aku dengan leluasa menciumi, memeluk dan memijat-mijat sepulang kantor ketika Ahza sudah tertidur.

Tapi, sekarang ada satu hal yang sering membuat dia terkejut, yaitu ...maaf...bunyi kentutnya sendiri...mengingatkanku pada teman kantorku di Lemigas yang sudah berumur 50 tahun lebih tapi masih sering terkejut dengan kentutnya sendiri...namanya...rahasiaaaaaa donggg......
Read more!

Thursday, January 24, 2008

Happy Birthday Ahza - 11 jan 07 s.d 11 jan 08
















Read more!

Thursday, November 08, 2007

Penyakit dan Zaman Edan

Penyakit dan Zaman Edan

Aloys Budi Purnomo

Martabat negara tampak tanpa rupa, berantakan dan rusak, hukum dan aturan diinjak-injak, tiada lagi teladan bijak, sang pujangga terdiam duka, hatinya remuk redam, rasa ternista dan terhina, matahari kehidupan seakan padam, dunia kini telah penuh bencana.

Bait pertama Kalatidha karya Raden Ngabei Ronggowarsito (1802-1873) itu kini seolah bergema kembali. Kritik Ronggowarsito tepat, keadaan sosial-politik yang karut-marut disebut sebagai zaman cacat (kalatidha).

Bennedict Anderson (Language and Power, 1990) menengarai, zaman menjadi cacat karena raja, pemegang kekuasaan, kehilangan kasekten (kesaktian, kejayaan).

Saat raja masih kasinungan kasekten (dalam kejayaan), semua tatanan kosmis berjalan harmonis. Namun, saat kasekten pudar kehidupan menjadi mungkar. Penguasa gampang bertengkar. Saat kesaktian penguasa luntur, rakyat babak belur hancur. Alam murka. Berbagai bencana menimpa.

Pudarnya kasekten penguasa membuahkan kehancuran semesta dan penderitaan rakyat. Musim menjadi kacau. Bencana merajalela. Gejolak sosial, ekonomi dan politik memanas.

Tanpa etika

Kesaktian penguasa yang membuahkan kejayaan dan kesejahteraan rakyat tergantung garis etika-kekuasaan. Selagi para penguasa menjalankan kekuasaan yang diemban dengan etika-kekuasaan, kejayaan bertahan, kesejahteraan rakyat terwujud. Sebaliknya, saat penguasa bergerak tanpa etika, kehancuran serentak di ambang mata.

Penguasa menjalankan tugas tanpa etika saat dirinya dikuasai pamrih. Kekuasaan tidak dihayati sebagai pelayanan, tetapi kesempatan untuk memanfaatkan kekuasaan demi kepentingan diri sendiri dan kelompoknya.

Saat itulah, menurut refleksi Ronggowarsito, kasekten pudar dan luntur. Pudarnya kesaktian penguasa tidak hanya melahirkan zaman cacat, tetapi juga zaman edan. Baginya, hidup pada zaman edan, gelap jiwa bingung pikiran. Turut edan hati tak tahan. Jika tidak turut, batin merana dan penasaran tertindas dan kelaparan.

Pada zaman edan, sakbeja-bejane wong kang lali, luwih begja kang eling lan waspada. Benarlah, seuntung apa pun orang yang lupa daratan, lebih selamat orang yang tetap menjaga kesadaran dalam kewaspadaan. Kesadaran dalam kewaspadaan itu hanya mungkin terjadi bila orang mengedepankan etika. Penguasa bergerak di garis etika-kekuasaan demi keadilan dan kesejahteraan rakyat.

Garis etika-kekuasaan yang ditawarkan Ronggowarstia amat jelas, etika eling lan waspada. Penafsiran Ahmad Norma (2007:12-13) tepat. Sikap eling lan waspada memberi kesadaran, manusia secara hakiki adalah makhluk spiritual. Kesadaran ini mendorong untuk selalu berpegang pada spiritualitas, yakni kedalaman dan kesejatian hidup.

Senantiasa sadar dalam bingkai spiritualitas membuat setiap orang tidak mudah tergiur nafsu berkuasa. Kalaupun harus berkuasa, atas dasar sikap eling lan waspada, yang bersangkutan akan mengembangkan kekuasaan sebagai pelayanan dengan segala risiko dan pengorbanan.

Relevansi kini

Belakangan ini rakyat dan masyarakat gerah. Era reformasi tidak kunjung membawa kemajuan yang menyejahterakan rakyat. Alih-alih menggapai kesejahteraan dan kemakmuran, rakyat justru kian terpuruk dalam kemiskinan dan ketertindasan secara sosial-ekonomis.

Tak heran muncul tekad kebangkitan dari keterpurukan. Momen peringatan Soempah Pemoeda 2007 memberi kesadaran agar kaum muda bangkit. Komite Bangkit Indonesia dideklarasikan, meski masih muncul wajah lama. Cita-citanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Komitmennya kebhinnekaan, pluralisme, dan keragaman budaya.

Apa pun namanya, siapa pun yang bercokol di dalamnya, seruan Ronggowarsito harus menjadi landasan etis gerakan menuju Indonesia Baru. Martabat negara sudah tanpa rupa dan rusak, hukum dan aturan diinjak-injak, tiada lagi teladan bijak.

Itulah penyakit zaman edan yang harus menumbuhkan sikap eling lan waspada dalam diri rakyat. Bila yang sedang berkuasa ataupun yang bercita-cita akan berkuasa sudah tidak mampu mengedepankan sikap eling lan waspada, rakyatlah yang harus melakukannya.

Penyakit zaman edan bukannya surut, tetapi kini justru kian menggila. Di sini, seruan sang pujangga perlu digemakan kembali. Tentang nafsu berkuasa, Ronggowarsito berseru, "Demikian itu ibarat seakan menolak, padahal berminat bukankah begitu, sobat?... Usia makin tua... lebih baik menarik diri dari dunia ramai untuk mencari karunia ilahi..." (Zaman Edan, VIII).

Karena itu, marilah serahkan masa depan republik ini kepada kaum muda. Itu juga yang telah disarankan Presiden Soekarno saat meresmikan patung Ronggowarsito di Sriwedari, 11 November 1953. Meski kita menghadapi penyakit zaman edan, "kita percaya dan yakin, pada suatu saat akan datang zaman yang gilang-gemilang, meski yang bagaimanapun edannya, penderitaan rakyat yang tak terhingga..., tetapi aku masih percaya penuh bahwa karena perjuangan dan hasil pekerjaanmu pemuda dan pemudi, nanti ucapan Ronggowarsito itu akan terwujud".

Kapan lagi seruan itu akan diwujudkan kalau tidak mulai dari sekarang!

Aloys Budi Purnomo Rohaniwan; Pemimpin Redaksi Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan, Semarang



Read more!

Sunday, October 28, 2007

Lebaran 2007 - Ahza 9 bulan





Read more!

Tuesday, October 23, 2007

MEMAKNAI HIDUP

Berbincang dengan seorang sahabat, dan dia berkata kenapa yah saya tidak bisa menikmati hidup, walau saya memiliki semua yang saya miliki. Hal ini menurut saya banyak ditanyakan beberapa sahabat.

Banyak orang yang menjalani hidup ini dengan tidak mengerti makna dari hidup mereka. Mereka lahir, tumbuh, menikah, mencari nafkah, membesarkan anak, dan akhirnya meninggal dalam keadaan hanya pasrah dalam menjalankan kehidupan dengan kosong.

Sebagaimana kita memandangi hidup, demikianlah kehidupan kita. Hidup menjadi berarti, bermakna, karena kita memberikan arti kepadanya, memberikan makna kepadanya. Bagi mereka yang tidak memberikan makna, tidak memberikan arti, maka hidup ini ibarat lembaran kertas yang kosong.

Hal terbesar di dunia ini bukanlah dimana Anda berdiri, melainkan kemana Anda akan pergi." Itu artinya, jika Anda mampu menetapkan,memahami dan memperjelas tujuan hidup, maka kemungkinan untuk memaknai hidup lebih besar.

Ada dua hal yang dapat membuat orang menjadi sadar dalam menjalankan kehidupan. Pertama, peristiwa-peristiwa pahit dan musibah. Musibah sebenarnya adalah ''rahmat terselubung' ' karena dapat membuat kita bangun dan sadar. Anda baru sadar pentingnya kesehatan kalau Anda sakit.

Kematian mungkin merupakan satu stimulus terbesar yang mampu menyentakkan kita. Banyak tokoh terkenal meninggal begitu saja. Mereka sedang sibuk memperjualbelikan kekuasaan, saling menjegal, berjuang meraih jabatan, lalu tiba-tiba saja meninggal. Kematian menyadarkan kita pada betapa singkatnya hidup ini, betapa seringnya kita meributkan hal-hal sepele, dan betapa bodohnya kita menimbun kekayaan yang tidak sempat kita nikmati.

Dalam mencoba mengisi dan menyadari arti kehidupan menyadari, yaitu siapa diri kita, darimana kita berasal, dan ke mana kita akan pergi. Untuk itu kita perlu sering mengambil jarak dari kesibukan kita dan melakukan kontemplasi. Dan sedikit perenungan akan membuat kita mengerti akan makna dari kehidupan. Ingat kehidupan berjalan tidak hanya mengejar keinginan mimpi duniawi.

Terkadang kita melupakan keberadaan orang terdekat, kita melupakan afeksi atau kasih sayang dari orang-orang terdekat yang membuat kita berarti, pengakuan keberadaan kita juga membuat kita bisa menikmati hidup. Disayangi orang tua, keluarga, anak, sahabat memberi kita kesempatan kita berarti dan menikmati kehidupan. Bayangkan ketika kehidupan kita hanya mengejar harta, mimpi, dan sukes dan kita mengabaikan keberadaan orang terdekat oleh kita, ketika mimpi, dan kesuksesan telah tercapai kita hanya menikmati sesaat, dan setelah itu kita akan kembali kosong.

Buat apa terlalu sibuk mengumpul-ngumpulka n kekayaan, dengan menyalahgunakan jabatan kalau hasilnya tidak dapat Anda nikmati selama-lamanya. Apalagi Anda sudah merusak jiwa Anda sendiri dengan berlaku curang dan korup. Padahal, jiwa inilah milik kita yang abadi.

Sering terpikirkan terkadang dalam kehidupan ini kita hanya mengejar kesenangan ragawi, kita kurang memperhatikan kesukesan jiwa, dan hati kita, maka banyak kita lihat saat ini orang yang memiliki kekosongan hati, dan dengan hati yang kosong akan mudah kita depresi, stress dan lainya. Karena tidak seimbangnya kebutuhan ragawawi dan kebutuhan jiwa.

Bukalah mata dan hati Anda untuk mengerti, mendengarkan, dan mempertanyakan semua pikiran dan paradigma Anda. Sayang, banyak orang yang mendengarkan semata-mata untuk memperkuat pendapat mereka sendiri, bukannya untuk mendapatkan sesuatu yang baru yang mungkin bertentangan dengan pendapat mereka sebelumnya. Orang yang seperti ini masih tertidur dan belum sepenuhnya tersadar.

Jadi saya hanya mengharap dan mengingatkan kepada para sahabat, mari kita jalani hidup dengan keseimbangan, mari kita nikmati hidup, mencapai sukses dalam kehidupan tanpa melupakan sukses setelah kita meninggalkan dunia juga harus dipikirkan.

" menikmati hidup tidak hanya dengan harta dan kekuasaan, menikmati hidup dengan hati yang tulus lebih berarti "

Dalam Perenungan, memaknai kehidupan


Read more!

Thursday, August 16, 2007

Bagaimana Menanggulangi Banjir dan Kekeringan?

Bagaimana Menanggulangi Banjir dan Kekeringan?
(Sebuah Pengalaman Nyata)
Oleh : Gatot Irianto, PhD

Masalah banjir dan kekeringan, sebenarnya merupakan persoalan klasik yang dihadapi
Indonesia dengan dua musimnya yaitu: musim hujan dan musim kemarau.
Persoalannya, tingkat gangguan iklim baik banjir maupun kekeringan itu terus
meningkat intensitas dan frekuensinya, sehingga kalau sebelumnya fenomena klasik
tersebut merupakan kejadian biasa, maka sekarang menjadi luar biasa. Kalau
sebelumnya pejabat termasuk pers kurang tertarik untuk membicarakan dan
membahasnya, maka sekarang hampir semua sektor memberikan perhatian yang luar
biasa. Pertanyaannya mengapa masalah banjir dan kekeringan belum dapat diantisipasi
sampai saat ini? Mampukah kita mengatasi atau paling tidak meminimalkan dampak
banjir dan kekeringan dengan teknologi dan sumberdaya yang kita miliki?


Masalah Banjir dan Kekeringan
Secara kuantitatif banjir dan kekeringan terjadi akibat kesenjangan dua hal yaitu:
masalah distribusi dan kapasitas/stroge. Distribusi hujan yang tidak merata sepanjang
tahun dan cenderung terakumulasi pada waktu yang singkat pada bulan Desember
sampai Pebruari menyebabkan tanah dan tanaman tidak mampu menampung semua
volume air hujan yang jatuh ke permukaan bumi. Akibatnya sebagian besar air hujan
dialirkan menjadi aliran permukaan, sehingga menyebabkan banjir di hilir. Peningkatan
volume aliran permukaan ini diperparah dengan terjadinya alih guna lahan dari sawah,
hutan, perkebunan ke lahan berpenutup permanen seperti perumahan, pabrik, jalan.
Perubahan yang tidak terkendali ini akan menyebabkan volume aliran permukaan
meningkat luar biasa dan kecepatan aliran permukaan meningkat secara tajam, sehingga
daya angkut, daya kikisnya menjadi luar biasa. Kondisi ini menyebabkan laju erosi,
pencucian hara dan penurunan kesuburan tanah semakin cepat. Volume air yang sangat
tinggi dengan waktu tempuh yang singkat, menyebabkan bahaya banjir di hilir menjadi
sangat besar. Dampaknya terlihat dari penurunan kemampuan tanah memegang air
akibat terkikisnya lapisan atas tanah merosot dengan cepat dan kebutuhan pupuk yang
terus meningkat sementara kemampuan produksi lahan per satuan luasnya terus
menurun. Kondisi ini sangat memberatkan petani, terutama yang berada di lahan kering
bagian hulu DAS. Masalahnya diperburuk lagi dengan harga komoditi pertanian yang
rendah terutama pada saat terjadi panen raya, karena sebagian besar masa tanam
terkonsentrasi pada musim hujan, sehingga panenpun terjadi pada selang waktu yang
sama.
Terbatasnya volume air hujan yang masuk ke dalam tanah menyebabkan tambahan
(recharging) cadangan air tanah menjadi sangat terbatas, sehingga pada musim
kemarau dengan kehilangan air yang sangat tinggi melalui evapotranspirasi dengan
kebutuhan yang hampir sama pada musim hujan, tentu cadangan air tersebut tidak akan
mencukupi untuk satu periode musim kemarau. Kondisi ini terus berulang dari waktu
kewaktu, sehingga defisit yang terjadi terus meningkat dan dampak yang ditimbulkan
semakin berat. Itulah sebabnya mengapa, daerah-daerah yang sebelumnya tidak pernah
mengalami kekeringan belakangan ini terus didera kekeringan dan cenderung menjadi
daerah endemik kekeringan. Sementara itu daerah yang sebelumnya merupakan
endemik kekeringan cenderung meningkat intensitas kekeringannya maupun arealnya.
Penanggulangan Banjir dan Kekeringan DAS Kali Garang
Pengalaman adalah guru yang paling baik, demikian di antara kata bijak yang perlu kita
cermati dan teladani. Pengalaman penanggulangan banjir dan kekeringan di DAS kali
Garang, Semarang hulu yang sebelumnya terkenal sebagai daerah banjir dan
kekeringan secara utuh. Strategi yang dilakukan sangat sederhana yaitu: menampung
kelebihan air hujan dengan membangun dam parit (channel resevoir) bertingkat
(cascade) dan mendistribusikan kelebihan air untuk menekan resiko kekeringan.
Kelebihan air yang digunakan pada hamparan di bagian atas, akan ditampung oleh dam
parit di bawahnya, untuk selanjutnya didistribusikan ke areal yang memerlukannya.
Demikian selanjutnya untuk kelebihan air pada dam parit kedua akan ditampung di dam
parit ketiga. Begitu seterusnya, sehingga sebagian besar volume air hujan akan berada
dalam waktu yang lebih lama di DAS, dan dengan membangun dam parit dalam
cascade kita dapat menurunkan laju erosi dan kecepatan aliran permukaan secara
signifikan. Konsepsi ini merupakan transfer skala dan ruang dari konsepsi
pendayagunaan sumberdaya air di teras sawah yang terintegrasi.
Pengalaman pengembangan dam parit bertingkat (channel resevoir in cascade) di DAS
Kali Garang hulu tapatnya di desa Kaji, Kecamatan Klepu, Kabupaten Ungaran yang
merupakan kerjasama antara Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi, Pusat
Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian,
Ungaran dan BAPPEDA Pemerintah Propinsi Jawa Tengah merupakan teladan yang
perlu diaplikasikan secara luas. Melalui upaya tersebut, petani dapat mengelola
lahannya pada musim kemarau, bahkan MK II (periode Juni-September) untuk
budidaya komoditas unggulan bernilai ekonomi tinggi. Keberhasilan upaya ini terlihat
dari kondisi tanaman di lapangan saat ini yang berada pada pertumbuhan vegetatif
maksimum yang semestinya apabila tidak dilakukan panen hujan dan aliran permukaan
baru pada tahap pengolahan tanah. Komoditas yang diusahakan juga tidak semata-mata
tanaman pangan, tetapi sudah mengarah ke cash crop (bawang merah, cabe, mentimun,
daun bawang dsb) yang diharapkan harga jualnya lebih baik dibandingkan komoditas
pangan klasik seperti jagung. Keberhasilan ini mendorong DPRD Jawa Tengah
berkunjung untuk melihat dari dekat bagaimana penanganan banjir dan kekeringan di
implementasikan.
Keberhasilan yang sangat nyata ini telah meningkatkan motivasi petani secara luar
biasa, bahkan pada pembangunan dam parit yang berikutnya, patani mengambil porsi
pembiayaan yang lebih besar, karena mereka menyadari manfaat langsung yang
didapatkannya. Saat ini tim teknis telah merancang kebutuhan ideal dam parit untuk
dapat mengelola sumberdaya air secara maksimal, dan diharapkan tahun 2003 sumber
pendanaan dari masyarakat semakin meningkatkan ketersediaan air menurut ruang dan
waktu. Untuk itu petani dibantu oleh tim teknis sedang merancang kelembagaan petani
pemakai air untuk mendayagunakan sumber daya air, meminimalkan konflik
penggunaan air dan memelihara infrastrukturnya. Berdasarkan pengalaman ini dapat
disimpulkan bahwa secara teknologi, sumberdaya manusia dan pengalaman, kita
mampu mengatasi masalah banjir dan kekeringan. Sekarang pertanyaannya, bagaimana
mendesiminasikan hasil ini secara cepat dan benar.

G a t o t I r i a n t o , P h D
Kepala Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi, Bogor.
(Dimuat pada Tabloid Sinar Tani, 5 Pebruari 2003)








Read more!

Wednesday, July 25, 2007

Bumi Tanpa Manusia

"Ada yang secara inheren memesona mengenai tempat-tempat yang ditinggalkan, apakah itu keseluruhan kota, seperti kota yang mengelilingi kerangka Chernobyl, (atau) kantongkantong kota tua yang kembali jadi kawasan rumput seperti di Detroit".

(Ramsom, penulis blog Mental-floss, 16/7/07, mengawali ulasan tentang buku "The World Without Us")

Sekarang ini hari demi hari kita banyak mendengar berita tentang kemunduran lingkungan. Hutan tropis menyusut karena dibakar, lapisan ozon berlubang, dan yang terakhir suhu rata-rata permukaan Bumi meningkat dalam fenomena pemanasan global.

Di majalah Discover (Juli 2007), Direktur Pusat Riset Matahari-Iklim pada Pusat Antariksa Nasional Denmark di Copenhagen Henrik Svensmark menyebutkan, Matahari memainkan peranan penting dalam pemanasan global.

Pernyataan yang secara politis dianggap keliru itu memang kontroversial karena terakhir justru makin diyakini bahwa aktivitas manusialah yang berperan besar terhadap terjadinya fenomena yang berpotensi menimbulkan bencana dahsyat pada masa datang ini. Pabrik-pabrik di seluruh dunia yang masih bekerja dengan membakar bahan bakar fosil—yang menyemburkan miliaran ton partikel dan gas karbon dioksida (CO2) setiap tahun—dianggap sebagai biang keladi pemanasan global.

Tampak bahwa di tengah kemungkinan terjadinya ancaman bencana lingkungan yang bisa amat dahsyat di masa depan, umat manusia umumnya masih banyak yang tidak acuh. Sebagian bangsa Indonesia terus melanjutkan kebiasaan buruk membakar hutan, bangsa Amerika dan Australia enggan bergabung dalam prakarsa pengurangan emisi gas rumah kaca.

Para pencinta lingkungan pun gemas. Dalam perasaan frustrasi atas ulah manusia yang bandel ini, sebagian berandai-andai, seperti apa ya seandainya Bumi ini tanpa manusia.

Pengandaian ini salah satunya mewujud dalam buku berjudul The World Without Us (Thomas Dunne Books/St Martin’s Press, 2007), karya Alan Weisman, seorang wartawan. Weisman tampaknya ingin memotret apa yang menjadi kerisauan pencinta lingkungan, yang rupanya juga punya eskatologi—visi dunia yang tidak dihabisi api suci tapi dikembalikan ke keseimbangan ekologis dengan penghilangan spesies paling pengacau.



Spesies itu tidak lain adalah manusia yang kini berjumlah sekitar 6 miliar, yang secara riil bermetabolisme dan bereproduksi, dan (aktivitasnya) mencemari permukaan Bumi.

Boleh jadi saking cintanya kepada Bumi, kini sudah ada kelompok yang menamakan diri Gerakan Pemusnahan Manusia (secara) Sukarela, yang situs web-nya antara lain berisi seruan agar manusia tak beranak.

Menurut buku Weisman, seperti diulas Jerry Adler (Newsweek, 30 Juli), salah satu gambaran masa depan yang dimaksud menyerupai kawasan di sekitar Chernobyl, PLTN Uni Soviet yang pada April 1986 meledak dan menyemburkan awan radioaktif. Kini, dalam radius 30 km dari PLTN itu, tidak ada lagi permukiman manusia. Yang ada hanya hutan yang mulai merambah bekas kawasan permukiman, menjadi kawasan hunian burung, rusa, dan babi hutan.

Imajinasi, dalam wujud eksperimen pikiran, Weisman berkembang lebih luas. Ia sampai pada gambaran bagaimana jika bukan hanya Chernobyl, tetapi sisa dunia lain juga ditinggalkan manusia, bukan karena menjadi korban perang nuklir atau bencana alam lain, tetapi karena memang manusia pindah ke planet lain, atau terkena virus yang memusnahkannya tetapi membiarkan biosfer lain utuh.

Apa jadinya kalau di dunia ini tidak ada yang memadamkan api, memperbaiki bendungan, dan membajak sawah? Apa yang akan terjadi dengan infrastruktur yang telah begitu luas dibangun umat manusia?

Menurut penuturan Weisman, dalam tempo beberapa hari atau minggu, PLTN di seluruh dunia akan mendidih dan berikutnya akan meledak, menghamburkan zat radioaktif. Listrik akan mati. Di Amerika, pompa yang selama ini memompa air agar sistem kereta bawah tanah New York tidak kebanjiran juga mati, banjir pun terjadi. Lantai beton akan membeku dan terlipat.

Beberapa abad kemudian, jembatan baja akan termakan karat. Struktur bangunan batu mungkin akan tinggal paling lama meskipun zaman es berikut akan menyapunya. Patung perunggu, menurut perkiraan Weisman, barangkali masih bisa dikenali 10 juta tahun mendatang, mungkin sebagai artefak terakhir dari peradaban manusia yang paling akhir bisa dikenali.

Nasib biosfer

Pertanyaan berikut yang dikemukakan adalah, "Lalu bagaimana dengan biosfer?" Kalau saja pemanasan global saat itu belum mencapai titik tak bisa kembali, biosfer bisa memulihkan banyak keragaman dan kekayaan yang sebelumnya rusak.

Kalau sebelumnya banyak disebut, bila tak ada manusia kecoak akan menguasai dunia, kini hal itu tak dipercaya lagi. Serangga tropis tak akan kuat menahan musim dingin tanpa pemanas sentral. Tikus dan anjing paling kehilangan manusia karena tikus tak menemui sampah lagi dan anjing tak punya pelindung yang bisa menjaganya dari pemangsa yang lebih kuat.

Sebagian dunia disebut akan muncul menyerupai zona demiliterisasi Korea, yang tidak ada seorang pun yang menapakkan kaki selama lebih dari setengah abad.

Weisman dan orang-orang yang ia tuturi tentu saja amat tertarik dengan skenario semacam itu. Mereka berpikir, karena manusia toh akan menghadapi bencana lingkungan satu hari nanti, mengapa tidak mengambil langkah untuk membuatnya jadi hal baik, dengan Bumi bisa menyembuhkan diri.

Melunak

Meski terkesan ekstrem, sikap Weisman yang terkesan gundah dengan perilaku manusia melunak seiring dengan berjalannya waktu. Manusia dengan segala hal buruknya telah menghasilkan banyak hal indah, seperti arsitektur dan puisi.

Weisman pun akhirnya tiba pada kearifan kompromistis. Ia tidak lagi menggambarkan perginya manusia dari Bumi, tetapi ada kesepakatan di seluruh dunia agar setiap pasangan manusia secara sukarela hanya punya satu anak. Hal itu, menurut dia, akan menstabilkan populasi manusia pada akhir abad ini, yaitu pada jumlah 1,6 miliar. Angka ini lebih kurang sama dengan jumlah penduduk dunia tahun 1900.

Dengan jumlah penduduk yang menyusut tersebut, akan makin banyak bagian dunia yang menyerupai Varosha, kawasan wisata pantai di Cyprus yang menyerupai daerah tak bertuan antara zona Turki dan Yunani, tempat Weisman menulis di antara rumput yang tumbuh liar.

Boleh jadi tanpa manusia alam di Bumi akan tumbuh indah tanpa ada yang mengganggu. Tapi, apa artinya semua keindahan tadi kalau tidak ada yang menjadi saksi? Dalam prinsip antropik menyangkut alam semesta (yang dikemukakan astrofisikawan teoretik Brandon Carter tahun 1973) disebutkan adanya manusia sebagai pengamat semesta.

Dalam konteks buku The World Without Us, mungkin Weisman sekadar mengingatkan implikasi dominansi manusia di planet Bumi. Dengan mengatakan ketiadaan manusia di Bumi karena melanglang ke angkasa, ia seperti menyiratkan, takdir manusia sebagai saksi bagi semesta tetap dihormati, betapa pun sekarang ini ia melihat betapa perilaku manusia demikian meremehkan Bumi.

Read more!